BENER MERIAH : Festival Didong yang digelar di halaman Mess Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Senin, 8 Juni 2026, menjadi panggung pelestarian budaya Gayo sekaligus bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke-80.
Kegiatan yang mengusung tema “Melestarikan Kebudayaan Gayo dan Kearifan Lokal” itu dibuka oleh Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Bener Meriah, Khairmansyah, yang hadir mewakili Bupati Bener Meriah.
Festival tersebut mempertemukan berbagai komunitas budaya dan masyarakat dalam satu ruang kebersamaan melalui seni Didong, kesenian tradisional Gayo yang sarat dengan pesan moral, nilai adat, serta pendidikan.
Dalam sambutannya, Khairmansyah menilai Didong bukan sekadar pertunjukan seni tradisional, melainkan warisan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Gayo. Menurut dia, keberadaan Didong perlu terus dijaga di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.
“Didong mengandung nilai-nilai kebersamaan, pendidikan, dan adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan budaya daerah,” kata Khairmansyah.
Ia juga menekankan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Keterlibatan komunitas pemuda, organisasi sosial, dan seluruh elemen masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar tradisi lokal tetap hidup dan berkembang.
Festival Didong menjadi salah satu agenda budaya yang mewarnai peringatan HUT Bhayangkara ke-80 di Bener Meriah. Selain memperkuat silaturahmi antarwarga, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan kembali kekayaan budaya Gayo kepada generasi muda.
Turut hadir dalam kegiatan itu Wakapolres Bener Meriah Syabirin selaku pembina KITOGA, Kepala Dinas Pendidikan Bener Meriah, pengurus KITOGA, VES Merapi, Lancer Bener Meriah, RAPI Riders Bener Meriah, dewan juri festival, serta sejumlah maestro bahasa dan budaya Gayo.
Pantauan di lokasi, ratusan warga memadati arena festival untuk menyaksikan penampilan para peserta. Suara syair dan tepukan ritmis khas Didong menggema sepanjang acara, menghadirkan suasana meriah sekaligus menegaskan bahwa kesenian tradisional Gayo masih mendapat tempat di hati masyarakat.(*)
Laporan : Afrian Termulo





