ACEH TENGAH : Asap tipis masih mengepul dari puing-puing rumah di Kampung Jeget Ayu, Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, Senin, 10 Agustus 2026. Bau hangus bercampur dengan debu. Di antara bangunan yang menghitam, warga memilah sisa barang yang masih mungkin diselamatkan.
Miko berdiri di sana dengan tatapan kosong. Di dekat rumahnya, dua sepeda motor tinggal kerangka. Sebuah mobil tak lagi menyerupai kendaraan. Semuanya berubah menjadi benda-benda hangus setelah api melalap kawasan permukiman sehari sebelumnya.
Bagi Miko, yang terbakar bukan hanya rumah dan kendaraan. Uang tunai sekitar Rp 60 juta yang disimpannya di rumah ikut lenyap. Tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun itu tidak sempat dibawa keluar.
“Saya mendapat kabar ada kebakaran saat berada di kebun. Saya langsung buru-buru pulang,” kata Miko dengan suara terbata-bata.
Ia berharap masih ada barang yang dapat diselamatkan. Namun harapan itu kandas ketika tiba di rumah. Api sudah lebih dahulu menguasai kawasan permukiman.
Miko hanya bisa menyaksikan harta bendanya dilalap api. Satu unit mobil dan dua sepeda motor tak sempat dikeluarkan. Uang tunai puluhan juta rupiah yang berada di rumah juga tak terselamatkan.
Kini, ia bersama keluarga harus memunguti sisa-sisa kehidupan dari antara puing. Tangan-tangan warga ikut membersihkan material bangunan yang hangus. Barang yang masih bisa digunakan dipisahkan dari benda yang telah menjadi arang.
Sehari setelah kebakaran, suasana Kampung Jeget Ayu belum benar-benar pulih. Api memang telah padam, tetapi kehilangan masih terasa di setiap sudut permukiman.
Sebagian warga datang membawa bantuan. Sebagian lain datang untuk melihat kondisi korban dan menguatkan keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Solidaritas juga datang dari masyarakat di desa dan kecamatan lain. Mereka membawa berbagai kebutuhan untuk membantu korban melewati hari-hari pertama setelah musibah.
Namun bagi Miko, bantuan itu tidak serta-merta menghapus kehilangan. Uang Rp 60 juta, kendaraan, dan rumah bukanlah sesuatu yang dibangun dalam sehari. Semua merupakan hasil kerja dan penghidupan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Ketika ditanya mengenai penyebab kebakaran, Miko enggan memberikan keterangan lebih jauh. Ia mengatakan persoalan tersebut sedang ditangani aparat penegak hukum.
Di tengah puing-puing itu, Miko mencoba menata kembali hidupnya. Belum ada kepastian bagaimana rumah akan kembali berdiri dan bagaimana harta yang hilang dapat diganti.
Yang tersisa untuk sementara adalah puing, kenangan, serta dukungan dari orang-orang yang datang membawa bantuan.
“Api telah padam. Tapi perjuangan kami untuk bangkit kembali butuh kesabaran yang kuat. Semoga kami bisa melewati ini. Mohon doanya,” ujar Miko.
Di Jagong Jeget, kebakaran mungkin telah berakhir. Bagi para korban, justru babak paling panjang baru dimulai, yakni membangun kembali kehidupan dari sesuatu yang nyaris tak tersisa.(*)
Laporan : Romadani





