BENER MERIAH : Laju harga pangan di Kabupaten Bener Meriah mulai menunjukkan tanda pelambatan. Pada pekan pertama April 2026, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) setempat mencatat penurunan Indeks Perubahan Harga (IPH) sebesar 0,38 persen, berbanding terbalik dengan lonjakan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 3,17 persen.
Data itu mengemuka dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi yang digelar secara virtual bersama Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, Senin, 6 April 2026. Rapat rutin mingguan tersebut diikuti kepala daerah, sekretaris daerah, TPID se-Indonesia, hingga Badan Pusat Statistik dan sejumlah kementerian teknis.
Dari ruang Saber Pungli, Kantor Setdakab Bener Meriah, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam, Ihsan, mengatakan tren penurunan harga ini dipicu oleh perbaikan pasokan dan distribusi bahan pangan.
“Secara umum terjadi penurunan harga bahan pangan sebesar 0,38 persen pada minggu pertama April dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Ihsan.
Ia menjelaskan, dinamika harga di daerah masih sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor klasik: pasokan, kelancaran distribusi logistik, kondisi cuaca hingga potensi bencana, serta fluktuasi permintaan masyarakat.
Sejumlah komoditas tercatat memberi andil terhadap perubahan harga. Udang basah menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 0,21 persen, disusul telur ayam ras 0,19 persen, dan minyak goreng 0,05 persen.
Meski mulai melandai, Ihsan mengingatkan pemerintah daerah tak boleh lengah. Mengacu pada target nasional, batas inflasi yang dianggap aman untuk kabupaten/kota berada di angka 3,5 persen, dengan sasaran utama 2,5 persen plus minus 1 persen.
“Daerah yang inflasinya melampaui batas toleransi 3,5 persen biasanya masuk kategori pengawasan atau rapor merah,” katanya.
Dengan tren penurunan di awal April, Bener Meriah untuk sementara berada di jalur aman. Namun, stabilitas harga, terutama pangan tetap menjadi pekerjaan bersama.
yang belum selesai.(*)
Laporan : Afrian Termulo





