BENER MERIAH : Di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, luka akibat banjir bandang dan tanah longsor belum sepenuhnya sembuh. Sebagian warga masih bertahan dengan rumah seadanya, dinding triplek, atap seng belum terpasang sempurna. Namun di tengah keterbatasan itu, bantuan mulai berdatangan, pelan tapi pasti.
Nama Salihin mungkin tidak sering disebut di lapangan. Tapi jejak bantuannya ada di banyak sudut, pada selimut yang terlipat rapi di sudut rumah, pada mukena yang digunakan saat salat, hingga pada seng yang perlahan menutup atap rumah warga.
Wakil Ketua III Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) itu mengalokasikan sekitar Rp 6 miliar untuk membantu warga terdampak di dua kabupaten tersebut. Dana itu dibagi merata, masing-masing Rp 3 miliar dan disalurkan melalui Dinas Sosial Aceh agar tidak meleset dari sasaran.
Bantuan datang dalam dua bentuk yang sederhana namun mendesak yakni sandang dan bahan baku rumah. Sebelum Hari Raya Idul Fitri, ribuan paket kain sarung, jilbab, mukena, dan selimut telah lebih dulu sampai ke tangan warga. Setelahnya, giliran material bangunan seperti seng, triplek, dan paku yang dikirim untuk membantu mereka membangun kembali tempat tinggal.
Bagi banyak warga, bantuan itu bukan soal jumlah. Ia hadir di waktu yang tepat.
“Kalau hujan turun, kami tidak lagi terlalu khawatir,” kata seorang warga Permata Bener Meriah, Fatmawati sambil menunjuk atap rumahnya yang baru dipasangi seng.
Di kantor Dinas Sosial setempat, bantuan itu dicatat dan disalurkan dalam beberapa tahap. Kepala Dinas Sosial Bener Meriah, Hasyimi, menyebutkan bahwa tahap pertama berupa sandang telah tuntas dibagikan, masing-masing 1.500 lembar kain sarung, jilbab, mukena, dan selimut. Tahap kedua, berupa bahan bangunan, kini masih berjalan. Sementara tahap berikutnya masih ditunggu.
Hal yang sama terjadi di Aceh Tengah. Kepala Dinas Sosial setempat, Windi Darsa, mengatakan bantuan tersebut membantu warga melewati masa paling sulit setelah bencana.
Namun cerita ini bukan hanya tentang bantuan yang datang. Ini juga tentang cara bantuan itu diberikan.
Tanpa seremoni besar, tanpa sorotan berlebih, Salihin memilih jalur sunyi. Ia tidak banyak muncul di tengah distribusi bantuan. Baginya, kerja-kerja seperti itu memang tidak membutuhkan panggung.
“Apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan semaksimal mungkin,” ujarnya singkat kepada Wartawan Aktual Aceh, Rabu, 8 April 2026 lalu.
Pendekatan itu mungkin tidak populer di tengah politik yang kerap riuh. Tapi di lapangan, hasilnya terasa konkret. Demikian pula, harapan tidak datang dalam bentuk pidato panjang. Ia hadir dalam wujud yang lebih sederhana, selembar selimut, sepotong seng, dan perhatian yang tidak banyak bicara, namun nyata.
Di sisi lain, Salihin tidak menutup mata pada persoalan yang lebih besar. Ia menyoroti kondisi jalan provinsi yang rusak akibat bencana hidrometeorologi dan banjir susulan. Jalan yang terputus bukan hanya menghambat mobilitas, tapi juga memperlambat pemulihan ekonomi warga.
Bagi masyarakat di dataran Gayo, jalan adalah penghubung utama untuk menjual hasil kebun, untuk mengakses layanan kesehatan, hingga untuk sekadar menjaga hubungan antarwilayah.
“Perbaikan harus segera dilakukan,” katanya.(*)
Laporan : Afrian Termulo





