
BENER MERIAH – Koordinator Komunitas Relawan Hulu DAS Peusangan (Korhudas Peusangan), Iwan Bahagia menyebutkan terdapat sembilan perusahaan sawit yang berkantor di Bireuen abai terhadap konflik gajah dan manusia yang kerap terjadi di kampung Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.
Menurut Iwan, 9 perusahaan itu beroperasi di wilayah konflik satwa dan manusia yang sudah menahun hingga menyisakan derita bagi masyarakat Negeri Antara.
“Selama ini, warga was-was terhadap gajah. Selalu jaga lahan mereka dari kedatangan gajah liar. Tapi justru lahan perkebunan milik sembilan perusahaan sawit itu aman,” kata Iwan dalam keterangan tertulis, Senin, 17 November 2025.
Menurutnya, berdasarkan informasi yang diperoleh langsung dari warga, kesembilan perusahaan itu memiliki kaki tangan di kampung Negeri Antara, dan kerap menutup ruang negosiasi antara warga dan perusahaan.
“Dari pengakuan warga, sudah ada aduan ke camat, jadi sempat ada upaya fasilitasi dialog, tetapi tiba-tiba Camat Pintu Rime menjawab, tidak ada kewenangan. Warga ya terkejut,” ucap mantan Presiden Mahasiswa STAIN Gajah Putih itu.
Permintaan warga kepada perusahaan sebut Iwan, bukanlah permintaan berlebihan. Pertama ada ruang dialog antara warga dan perusahaan, serta permintaan pembuatan barier atau apapun yang mencegah perkebunan warga di didatangi gajah.
“Warga kerap merugi atas konflik gajah dan manusia ini. Perusahaan justru mengamankan hanya perkebunan sawit mereka sendiri, sementara warga yang tinggal tidak jauh dari perkebunan diabaikan,” ucap Iwan.
Korhudas Peusangan katanya akan melakukan upaya tersurat kepada gubernur serta pemerintah terkait, agar menegur perusahaan yang mengabaikan kehidupan masyarakat sekitar perkebunan, mengingat konflik gajah masih terus terjadi di kawasan itu.
“Padahal perusahaan punya CSR. Warga buka minta uang, bukan minta bantuan, melainkan bantu mereka atasi konflik gajah dan manusia,” pungkas Iwan.(*)
Laporan : Mohammad Al Fatih





